Senin, 16 Desember 2013

Dilema Minangkabau

DILEMA MINANGKABAU

Minang merupakan salah satu etnis dari 1.072 etnis yang ada di Indonesia, dengan kekhasan budaya dan tradisi nya. Tradisi dan budaya Minangkabau berlandaskan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK) yang menjadi dasar dalam mengatur segala tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau. Akan tetapi pada kenyataan sekarang ini, dapat dilihat bahwa Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah hanya berupa suatu rumusan adat Minangkabau. Tapi tidak begitu terlihat pengimplementasiannya dalam kehidupan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Juga terdapat perbedaan atau pertentangan antara ajaran adat Minangkabau dan ajaran agama Islam sehingga masyarakat Minangkabau hidup dalam sistem sosial yang dualistis dan juga menimbulkan kebingungan di kalangan kaum muda Minangkabau dalam mengamalkan identitas dirinya.

Menurut Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau ( LKAAM ) mengenai sistem kemasyarakatan, Adat Minangkabau menganut sistem matrilineal dengan tujuh ciri sebagai berikut :

a)    Keturunan dilihat menurut garis ibu
b)   Suku terbentuk menurut garis ibu
c)    Tiap orang diharuskan menikah dengan orang di luar sukunya ( eksogami )
d)   Kekuasaan di dalam suku terletak di tangan ibu, tetapi jarang sekali dipergunakan, sedangkan yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki
e)   Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami bertempat tinggal di rumah istrinya sesudah perkawinan
f)    Di dalam adat, seorang ayah berada di luata suku istri dan anak-anaknya
g)   Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya, yaitu anak dari anak perempuan.

Rumusan ABS BSK tersebut hanyalah salingka nagari. Sebagai konsekuensinya, para Perantau Minangkabau yang pergi meninggalkan nagari asalnya di Ranah dan di Rantau perlu merumuskan dan menetapkan sendiri pokok-pokok ABS BSK yang sesuai situasi dan kondisi wilayah rantau. Walaupun diucapkan secara terus menerus sepanjang waktu, namun sesungguhnya tidak seorangpun yang benar-benar tahu apa kandungan ABS SBK serta bagaimana cara melaksanakannya di dalam dan ke dalam keseluruhan kehidupan Masyarakat Minangkabau.

Pada saat sekarang ini, banyak masyarakat Minangkabau yang tidak tertarik ataupun berusaha untuk mendukung dan melestarikan budaya dan adat Minangkabau, apalagi masyarakat Minangkabau modern di daerah perkotaan yang hidup dengan sektor jasa dan industri. Mereka hidup berdasarkan tatanan kehidupan masyarakat kota sehingga tidak  ada pengaplikasian dari adat Minangkabau dalam kehidupan mereka tersebut. Hal ini terjadi karena ruang lingkup dari rumusan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah hanya salingka nagari yang memang dirancang untuk masyarakat petani yang hidup dari tanah pusako dan sistem kekerabatan matrilineal yang sebenarnya hal ini bermasalah jika dilihat dari ajaran Islam. Sebaliknya, masyarakat Minangkabau yang hidup di daerah rantau dan kota tidak begitu peduli dengan aturan adat yang berlaku di ranah. Mereka hidup sesuai adat dan kebudayaan tempat dimana mereka berdomisili. Semua hal ini membuat adat dan budaya Minangkabau mengalami kemunduran secara terus menerus, dan kurangnya perhatian dari masyarakat Minangkabau sendiri untuk mendukung dan membenahi kembali Minangkabau membuat keadaan ini bertambah buruk.

Selain kurangnya perhatian dari masyarakat Minangkabau sendiri, ditambah lagi dengan kecendrungan masyarakat untuk mengikuti tatanan hidup masyarakat modern. Apalagi dizaman globalisasi seperti sekarang ini, minat dan perhatian masyarakat lebih tertuju pada kecanggihan teknologi dan juga budaya dari luar sehingga tidak memperhatikan budaya dan adat Minangkabau sendiri yang mengalami kemunduran secara terus menerus dan bahkan bisa hilang dalam persaingan dengan ribuan etnik lain yang ada di Indonesia.

By :  Dblueberry






Gayatri atau Ken Dedes

Wajah di Belakang Prajnaparamita...
ARCA yang diyakini perwujudan ibu suri kerajaan Majapahit era Hayam Wuruk (masa keemasan majapahit), Gayatri Rajapatni dalam keadaan tidak utuh lagi di candi Boyolangu atau candi  Gayatri menurut penamaan warga di desa  dan kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungagung, JaTim.



Keyakinan sejarawan dari University of British Columbia, Kanada, Earl Drake, mengejutkan. Pada bukunya, ia menyatakan patung Prajnaparamita yang termasyhur itu adalah Gayatri Rajapatni. Bukan Ken Dedes seperti yang diyakini publik selama ini. Patung Prajnaparamita salah satu peninggalan artistik dari masa lalu Nusantara, mungkin paling terkenal di dunia Barat, mempesona pengunjung pameran museum dari Paris hingga Tokyo.
Pengajar sejarah dari Uneversitas Negri Malang (UNM), Deny Yudo Wahyudi mengaku sampai membaca buku itu, Gayatri Rajapatni, Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit (penerbit Ombak, Yogyakarta, 2012)berulang kali. Ia memahami Prajnaparamita adalah Ken Dedes, istri dari raja Singhasari Ken Arok. Ia membuat ulasan arkeologis tentang misteri yang terlanjur menjadi keyakinan masyarakat itu.
Ken Dedes hidup pada masa sekitar 100 tahun sebelum era Gayatri. Pemahamn selama ini, Ken Dedes adalah wajah dibalik Prajnaparamita. Saat ditemukan oleh pejabat kolonial Belanda tahun 1818, patung itu barada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, tempat Candi Singosari berada. Daerah itu dinilai sabagai lokasi Singhasari.
Di pintu gerbang kota Malang, di Kecamatan Blimbing, patung Prajnaparamita yang dipahami patung Ken Dedes dibangun berukuran raksasa, sebagai ikon selamat datang. Ken Dedes digunakan untuk nama pusat kerajinan, juga galeri seni. Rumah Makan Inggil memasang patung itu di pintu nya.
Sulit memahami, saat patung ini harus dikenali dengan karakter lain, Gayatri Rajapatni. Dalam dokumentasi luar negri, seperti The Sculpture of Indonesia (National Gallery of Art, Washington, 1990), Drake sudah menyatakan Prajnaparamita adalah Gayatri Rajapatni.
Diskusi dengan Drake, Duta Besar Kanada untuk Indonesia (1982-1983) dan mantan Direktur Eksklusif Bank Dunia (1975-1982), yang berlangsung di UNM tidak bisa menghindarkan perdebatan soal ini. Posisi duduk Prajnaparamita menunjuk cara duduk pendeta Buddhis Dharmacakramudra, yang disebut Buddhis Iconography. Ini cocok dengan Negarakertagama, sumber utama yenyeng Majapahit. Gayatri saat dewasa memilih menjadi pendeta Buddha dan mengasingkan diri ke selatan. Padahal, agama kerajaan masih Hindu. Sebaliknya, karakter Ken Dedes lebih tepat dikaitkan dengan Dewi Hindu, Parvati. Ken Dedes berasal dari zaman Hindu di Singhasari.
Bagi Denny, buku Drake membuka perdebatan lama tentang siapa yang dipatungkan menjadi Prajnaparamita. “Ilmuwan sejarah masih berdebat, namun masyarakat terlanjur ada keputusan, bahwa Prajnaparamita adalah Ken Dedes. Kecantikan Ken Dedes terlanjur merasuk dalam cerita rakyat Jawa Timur sehingga patung yang cantik ini mudah diyakini sebagai wujud Ken Dedes”, katanya.
Arca dewa atau dewi pada situs kekunoan dipahami sebagai potret tokoh tertentu. Di balik wajah itu ada karakter manusia asli. Jika benar demikian, betapa cantiknya, siapapun perempuan yang menjadi wujud patung itu.
Gayatri sebagai karakter sejarah agak luput dari perhatian peneliti nasoinal. Menurut Drake ia dipuja Prapanca, pena penulis  Negarakertagama (Nagarakretagama atau Desawardana) yang rampung ditulis 1365.
Menurut Deny, biografi Gayatri agak samar karena tak banyak sumber sejarah pembadingnya. Namun Drake dengan pengalaman 20 tahun menelusuri sejarah Majapahit dan terpukau dengan peran Gayatri sebagai perempuan di tengah iklim patriarki pada peradaban kuno Singhasari dan Majapahit pada abad ke-14 itu. Ia juga berani menyejajarkan Gayatri dengan Cleopatra dari Mesir, perempuan “penakluk” Romawi.
“Hollywood yang membuat Cleopatra tampak besar. Gayatri tak hanya tokoh nasional di Majapahit, tetapi tokoh perempuan internasional pula. Wawasannya diwarisi dari ayahnya, raja besar Singhasari Kertanagara, yang berani menghadapi dominasi global Kubilai Khan” jelasnya.
Gayatri (wafat 1350), sebagai istri pendiri Majapahit, Raden Wijaya (1294-1309). Ia adalah perempuan yang mengasuh dua tokoh penting, Raja Hayam Wuruk (1350-1389), cucu Gayatri dan Maha Patih Gajah Mada. Keduanya yang melahirkan zaman keemasan Majapahit.
Gayatri diduga yang membangun wawasan nusantara, yang berlaku hingga kini, melampaui zamannya. Menurut Drake dan Deny, ia juga menjembatani perbedaam agama Hindu dan Budha yang tegang dan mendorong pluralisme di tanah Jawa pada zamannya. “Prestasi Hayam Wuruk mempersatukan nusantara melalui bantuan Gajah Mada yang berideologi Bhinneka Tunggal Ika, kesatuan dalam keberagaman. Gayatri patut diyakini sebagai orang di balik kebesaran Majapahit,” Jelas Drake.
Deni menduga ada keterkaitan antara Prajnaparamita dan Gayatri. Melalui analisis Drake, ia membenarkan patung Gayatri memenuhi gaya Majapahit Style, sebab bunga teratai pada tatakan  patung itu ada di luar vas. Artinya gaya Majapahit, bukan gaya Singhasari.
Menurut sejarawan dari Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar seperti dikutip Deni, arca Prajnaparamita dari Singosari pas dilekatkan dengan Gayatri. Negarakertagama mengasumsikan ada dua arca “pendarmaan” Gayatri. Yang satu di Prajnaparamitapuri, Bhayalangu.
Satu lagi, diduga kini berada di Museum Nasional Jakarta. Patung ini pernah diangkut ke Leiden, Belanda, sebelum dikembalikan ke Indonesia, Agus Arismunandar (2003), yakin Gayatri bukan Ken Dedes. 



Sources : Harian Umum Singgalang





Guguih Padang Sibusuak


LAMANG TONGKAT
(GUGUIH)
MAKANAN KHAS SIJUNJUNG
                Makanan ini adalah makanan khas daerah sijunjung dan penelitian ini di buat di daerah padang sibusuk kec. Kupitan kab.sijunjung. provinsi Sumatera Barat.
Lamang tongkat, orang  padang sibusuk menyebutnya dengan guguih. Guguih ini sudah ada jauh sebelum penjajah colonial belanda masuk ke ranah minang ini. Menurut tradisi orang padang sibusuk mereka percaya kalau makanan ini adalah tongkat menuju sorga. Jadi, guguih ini dibuat hanya pada Lebaran Haji saja. Kalau tidak ada guguih sepertinya di dalam rumah tersebut tidak merayakan hari raya haji. Jadi orang sijunjung khususnya masyarakat padang sibusuk selalu membuat guguih pada hari raya haji.

Cara membuat guguih
Bahan:
·         Kelapa yang sudah diparut
·         Tepung beras
·         Gula aren
·         Garam
·         Vanile
·         Daun pisang secukupnya.
·         Tali raffia
Cara membuat:
·         Kelapa parut di sangria sampai warnanya berubah menjadi coklat
·         Tepung beras juga disangrai sebentar
·         Rebus gula aren tambahkan pandan rebus hingga mencair
·         Campur kelapa parut yang sudah disangrai dengan tepung beras dan juga air rebusan gula aren
·         Setelah semua bahan dicampur dan menjadi adonan, lalu di remas-remas hingga keluar minyak kelapa
·         Setelah adonan berminyak, lalu dibungkus dengan daun pisang, dan dibentuk seperti tongkat lalu diikat dengan tali.
·         Setelah semua adonan dibentuk, lalu direbus selama 1 jam.


























by : Dilla Fadhila W


kuliner khas Lubuk Basung (Agam)

Palai Rinuak dan Asin Pensi
Palai rinuak dan asin pensi merupakan makanan khas masyarakat Maninjau, yang berasal dari Danau Maninjau sendiri.  Palai rinuak dan asin pensi sudah ada semenjak danau maninjau ada. Semenjak meletusnya gunung dan terjadilah danau maninjau. Rinuak  bukan saja diolah menjadi rinuak tapi ada juga yang dibuat menjadi kerupuk rinuak. Selain itu pensi juga ada yang digulai yang sudah dikeluarkan dari cangkangnya. Selain itu masyarakat sekitar maninjau jugamampunyai keramba ikan.
Asin  Pensi
Bahan:
·         Pensi
·         Daun kulit manis
·         Baun pandan
·         Bawah merah
·         Bawang putih
·         Daun jeruk
·         Daun bawang
·         Seledri
·         Jahe
Cara Membuat Asin Pensi
1.      Rebus air dengan daun kulit manis dan pandan hingga mendidih
2.      Lalu masukkan pensi ke dalam air tersebut dan beri garam
3.      Tunggu beberapa menit, lalu tiriskan.
4.      Goreng bawang merah, daun bawang, daun jeruk, seledri
5.      Tumis bumbu halus ( bawang putih, jahe, ) sampai harum
6.      Masukkan pensi, lalu aduk sampai rata.

Selesai……..
Asin Pensi siap untuk dihidangkan.

Kerupuk Ubi

Kerupuk ubi merupakan salah satu makanan khas masyarakat Kampung Pinang Kenagarian Kampung Tangah, Kabupaten Agam. Dan kerupuk ubi ini juga merupakan salah satu mata pencarian ibu- ibu yang ada di Kampung Pinang. Sebagian besar masyarakatnya membuat kerupuk ubi.

Makam Pahlawan dalam Perang Manggopoh tahun 1908
Ini merupakan makam pahlawan yang meninggal sewaktu perang manggopoh pada tanggal 15 juni 1908 dalam melawan penjajahan Belanda di nagari manggopoh. Yang meninggal dalam perang menggopoh tersebut yaitu:
1.      Siti Manggopoh
2.      Majo Ali
3.      Pa’cik Sutan Marajo
4.      Hasik Bagindo Magek
5.      Dukap Marah Sulaiman
6.      Na’abas Bagindo Bandaro
7.      Unik
8.      Sain Sidi Malin
9.      Dullah Pakih
10.  Tabuh Sutan Mangkuto
11.  Kana
12.  Sumun Sidi Rajo
13.  Muhammad  Bagindo Sutan
14.  Kalik Bagindo Marah

15.  Tabat Bagindo Sidi





















By : ZULMANELI